Pemanfaatan Air Bekas Wudhu untuk Penyiraman Tanaman

October 13, 2012

Pemanfaatan Air Bekas Wudhu untuk Penyiraman

Tanaman

  1. 1.      Latar Belakang

Air merupakan kebutuhan makhluk hidup yang sangat penting. Tidak ada satu makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air. Sebagian besar tubuh manusia yaitu 80% tersusun atas air. Air harus ada dalam setiap kehidupan. Dapat disimpulkan bahwa air adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di bumi ini.

Wudhu adalah membersihkan anggota badan untuk menghilangkan hadas kecil. Menurut istilah syariat, yaitu menggunakan air suci ke atas anggota tubuh tertentu yang telah dijelaskan dan disyariatkan Allah swt. Orang yang hendak melaksanakan sholat, wajib terlebih dahulu berwudhu karena wudhu menjadi syarat sahnya sholat (Rifa’I, 1976)

Umat Islam selalu mengerjakan sholat wajib lima waktu, yaitu shubuh, dhuhur, asyar, magrib, dan isyak. Bahkan tak jarang yang melakukan lebih dari itu. Mereka sering melakukan sholat-sholat sunah lainnya. Dalam mengerjakan sholat diwajibkan untuk bersuci terlebih dulu, salah satunya dengan berwudhu.

Wudhu dalam kehidupan merupakan hal yang biasa dilakukan sehari-hari. Selain dikerjakan sebelum melakukan sembahyang baik mengerjakan sholat maupun membaca Al-Qur’an juga biasa dikerjakan umat Islam untuk memulai aktifitas sehari-hari agar selalu menjaga kesucian dan mengendalikan perilaku.

Dalam sehari umat Islam minimal mengerjakan wudhu sebanyak lima kali yaitu ketika akan mengerjakan sholat. Pengerjaan wudhu harus dilakukan pada air yang mengalir. Hal tersebut bertujuan agar air yang digunakan dalam berwudhu merupakan air yang suci dari najis. Namun, kecenderungan orang-orang sekarang yaitu mereka berwudhu dan membiarkan air mengalir bahkan saat tidak dipakai, dalam artian ada jeda waktu yang dihabiskan ketika selang membasuh anggota tubuh dengan mengambil air di tangan. Bisa dibayangkan air yang terbuang dari kegiatan wudhu tersebut. Oleh karena itu, pemborosan air yang diakibatkan kegiatan wudhu sebaiknya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain yang bermanfaat bagi kehidupan makhluk lain, misalnya tumbuhan.

Dengan demikian, kami mencoba memanfaatkan air bekas wudhu sebagai penyiram tanaman khususnya tanaman hias. Kami memilih tanaman hias sebagai objek penelitian karena skala penelitian yang masih dalam skala kecil.

 

  1. 2.      Pembahasan

Penggunaan air dalam berwudhu membutuhkan air yang suci dan mengalir. Hal ini sesuai dengan arti wudhu yaitu bersih dan indah. Penggunaan air suci untuk berwudhu sesuai dengan syarat sahnya wudhu maupun sholat.

Adapun proses kerja yang dilakukan yaitu dengan menampung aliran air bekas wudhu. Air yang mengalir saat  berwudhu ditampung dengan menggunakan ember. Diameter ember yaitu 27 cm, kemudian tinggi air bekas wudhu yang dilakukan mencapai 4 cm. Berdasarkan data percobaan yang dilakukan, dalam sekali berwudhu menghabiskan air dengan rincian sebagai berikut.

 

Vair = µ.r2.t

= 3,14. 13,5. 4

= 169,56 cm3

Dari data tersebut dapat dihitung jumlah air minimal yang digunakan untuk mengerjakan sholat lima waktu (wajib) satu orang  dalam sehari yaitu sebanyak :

Vair total = Vair  x 5

=169,56 x 5

=848,25 cm3

Jadi dalam satu hari minimal kita menghabiskan air untuk berwudhu sebanyak 848,25 cm3. Dapat dibayangkan berapa air yang dapat dihemat dengan penggunaan air tersebut sebagai penyiram tanaman. Jika dalam sehari untuk menyiram tanaman dengan menggunakan air bersih sebanyak 500cc dengan hal tersebut maka dapat ditafsir berapa air yang bisa dihemat. Pembuangan air bekas wudhu tersebut secara tidak langsung telah mengakibatkan pemborosan air.

Sebenarnya dalam HR. Muslim dianjurkan untuk menghemat dan tidak berlebihan dalam memakai air. Hal tersebut dikarenakan air bekas wudhu tersebut tidak dapat dimanfaatkan lagi untuk kebutuhan konsumsi. Oleh karena itu, pemanfaatkan air bekas wudhu untuk kebutuhan pengairan perlu diupayakan. Penelitian yang diambil dalam skala kecil yaitu dengan memanfaatkannya untuk menyiram tanaman hias. Tidak dapat dipungkiri bahwasanya air tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal lain.

Sebagian besar rumah pasti memiliki tanaman hias walaupun hanya sedikit jumlahnya. Tanaman tersebut biasanya disiram dengan air yang masih baru diambil dari kran baik secara langsung maupun tidak. Kita tahu, ketersediaan  air dimasa mendatang akan semakin menipis. Oleh karenanya upaya penghematan persediaan air demi kelangsungannya di masa mendatang untuk anak cucu kita nanti sangat diperlukan.

Dengan demikian, kita berupaya memanfaatkan air bekas wudhu tersebut untuk menyiram tanaman. Mengingat kandungan bekas air wudhu yang tidak bersifat racun, maka hal tersebut dapat dilakukan tanpa proses filtrasi yang rumit  terlebih dahulu.

Proses pemanfaatan air bekas wudhu sehingga dapat menjadi penyiram bagi tanaman ini hanya sederhana. Hal tersebut dapat langsung dilakukan dengan menampung air dalam wadah atau mengalirkannya lewat saluran khusus. Namun, mengingat tidak dapat dipungkiri bahwa ada kandungan tertentu dalam air wudhu yang diakibatkan kotoran yang menempel pada anggota badan manusia maka sebaiknya dilakukan proses filtrasi sederhana untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan bagi kelangsungan hidup tanaman. Proses filtrasi yang dilakukan tidak serumit yang biasanya dilakukan pada air yang kotor dan sengaja dibersihkan untuk dikonsumsi yang biasanya menambahkan zat-zat kimia didalamnya.Tetapi, proses filtrasi yang dilakukan disini hanya menggunakan bahan-bahan alam, yakni serabut kelapa, batu, kerikil, pasir, arang, kapas, dan lainnya yang disusun secara sederhana berdasarkan tingkat tekstur dan ukurannya. Secara sederhana proses kerjanya sebagai berikut :

  1. Pasang penampung air di bawah tempat wudhu
  2. Di bawah penampung air tersebut terdapat lubang untuk mengalirkan air bekas wudhu menuju penampungan ke dua ( tempat filtrasi)
  3. Air yang telah melalui proses penyaringan dialirkan ke penampungan ke tiga yang langsung terhubung dengan kran untuk menyiram tanaman.

 

 

Orang yang berwudhu umumnya sudah dalam kondisi yang bersih. Bersih disini dalam artian tidak mengandung racun berbahaya maupun zat-zat kotor lainnya. Jika orang yang sehabis memegang benda beracun ataupun zat-zat berbahaya pasti akan mencucinya dengan sabun bukan dengan cara berwudhu. Namun, kewajiban bersuci sebelum mengerjakan sholat yang membuat orang harus mengerjakan wudhu setiap akan melakukan sembahyang. Air yang mengalir saat berwudhu akan terbuang sia-sia. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, yaitu untuk menyiram tanaman. Hal tersebut bisa dilakukan dengan  memberikan bak penampungan air yang langsung dapat menyalurkkannya melalui pipa. Hal tersebut hampir sama dengan prinsip pada washtafle. Kemudian air dialirkan ke penampungan tempat penyaringan dilakukan. Penyaringan yang digunakan disusun dari bahan yang bertekstur kasar dan ukurannya besar sampai bahan yang bertekstur lembut. Susunannya dapat dilihat pada gambar berikut :

 

Penyaringan sederhana ini dimaksudkan untuk menghindari terlarutnya zat-zat yang dapat merugikan pertumbuhan tanaman. Dengan penyaringan ini diharapkan dapat dihasilkan air yang bersih dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Setelah proses penyaringan, akan dilanjutkan dengan proses penampungan ke tiga yang langsung terhubung dengan kran untuk menyiram tanaman. Air hasil tampungan ini dapat disimpan maupun langsung digunakan untuk menyiram tanaman.

Proses yang telah dijelaskan diatas hanya menggunakan alat yang sederhana dengan biaya yang murah pula. Bak penampungan bisa terbuat dari bak-bak air dan menggunakan pipa pvc yang biasa digunakan pada kran umumnya. Sedangkan pada penampung ke tiga dapat digunakan selang air yang digunakan untuk menyiram tanaman.

Demikian proses yang dapat dijalankan sehingga air bekas wudhu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan tanaman. Hal tersebut sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh siapapun, sehingga semua kalangan dapat menerapkan hal tersebut di rumahnya.

 

  1. 3.      Kesimpulan

Berdasarkan data dan penelitian yang kami lakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa pemborosan air yang diakibatkan proses kegiatan wudhu dapat diminimalisir dengan penggunaan air bekas wudhu tersebut untuk pengairan pada tanaman. Penggunaan teknologi sederhana membuat proses kerja dari kegiatan ini mudah dilakukan oleh kalangan manapun dan menggunakan biaya yang murah. Selain itu, pemanfaatan dari air bekas wudhu sebagai penyiram tanaman ini mampu menghemat air. Tanaman yang biasa disiram dengan air yang masih bersih dapat digantikan dengan menyiramnya menggunakan air bekas wudhu tersebut. Alhasil, kebutuhan berwudhu dan penyiraman tanaman dapat digabungkan menjadi satu kepentingan, yaitu dapat menghemat air.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Rifa’I, Moh. 1976. Risalah Tuntunan Sholat Lengkap. Semarang. C.V. TOHA PUTRA

Asy-Syuwayyib, Fadh bin Abdurrahman. 1990. Sifatu Wudhui An-Nabi. Kuwait. Maktabah Ibnu Taimiyah

Filed in General at 2:01 am

no comments

Embun dalam Gersang

Embun dalam Gersang

 

Kamar asramaku begitu mengesankan, meskipun menurut teman sekamarku kamar ini begitu tak layak. Kamar ini begitu istimewa bagiku. Saat di rumah, aku hanya punya kamar yang berlantai tanah, dengan tembok yang belum dicat rata, kasur lipat yang jika hujan tiba tubuh ini terasa menggigil. Di kamar asrama ini, aku mendapatkan suasana yang berbeda. Lantainya yang telah berkeramik, juga temboknya dengan cat yang lumayan bagus, serta berbagai fasilitas, seperti meja belajar dan lemari pakaian yang tak pernah aku nikmati di kamar rumahku. Tapi meskipun begitu, rumah kecil keluargaku adalah ketenangan bagiku. Disanalah tempat aku melepaskan beban hidupku yang kian menjadi seiring bertambahnya usia.

Saat teman-temanku kuliah, disaat itulah aku selalu menghabiskan kesendirian dengan merenung. Mengingat hari kemarin yang penuh sesak, deraian air mata bahagia keluargaku saat aku berlabuh di Kota Bogor ini. Aku menikmati setiap sudut kamarku, tempatku bersama teman-teman kamarku di asrama. Kami hanya tinggal bertiga dikamar ini. Menghabiskan siang dan malam bersama. Setiap haru biru serta canda tawa kami seakan telah terlukis di kamar ini. Di sudut kasur tempatku melepas lelah setelah pulang kuliah, aku teringat akan kakekku yang Bulan Ramadhan lalu telah meninggalkan kami semua. Kakek yang begitu aku sayangi dan selalu memberikan aku nasihat akan hidup yang penuh liku-liku ini. Saat aku masih SD, beliau selalu menyuruhku agar ketika besar nanti aku menjadi seorang sarjana. Beliau sangat menginginkan aku kuliah, membahagiakan orang tua, serta keluargaku yang notabene belum pernah ada diantara kami mengenyam pendidikan sampai di perguruan tinggi. Sebagian besar keluarga besarku hanya berprofesi sebagai TKI. Setelah lulus SMP, kebanyakan memilih mengadu nasib ke luar negeri dengan harapan mendapat masa depan yang lebih cerah disana.

Ketika SMP, akupun pernah berkeinginan mengikuti jejak keluargaku menjadi TKW ke Hongkong. Namun seiring perjalanan, mimpiku berubah. Aku ingin mengubah semuanya. Paradigma yang terlanjur melekat pada keluargaku akan aku ubah. Aku tak ingin lagi meneruskan semuanya. Ingin aku menepis semua penghinaan yang telah keluargaku terima. Bukannya aku dendam pada tetangga yang telah mencibir kami, tapi aku tak ingin penghinaan itu dirasakan lagi oleh anak-anakku kelak. Aku ingin memutus rantai penderitaan kami selama ini.

Kelas 3 SMA, aku sangat bimbang, memilih meneruskan perjuangan atau pasrah pada keadaan. Ekonomi keluargaku sungguh tak memungkinkan untukku melanjutkan kuliah, apalagi untuk bermimpi jauh ke Bogor. Untuk kuliah di daerahku saja, Ponorogo, aku tak berani memimpikannya.

Saat teman-temanku bingung memilih perguruan tinggi, aku hanya terdiam. Sungguh tak terlintas dalam benakku untuk kuliah kala itu. Ketika ada sosialisasi, kadang aku malah pergi keluar ruangan dan sibuk main handphone sendirian. Setelah musim sosialisasi berakhir, edaran untuk daftar kuliah telah beredar. Aku merasa miris menyaksikan mereka sibuk mendaftar SNMPTN Undangan ke berbagai universitas, tapi apa yang bisa ku perbuat? aku hanya bisa pasrah menerima semuanya. Tapi aku selalu yakin Allah selalu mendengar do’a hamba-Nya. Selang beberapa hari Alhamdulillah kabar baik itu datang. Ditengah kebimbangan itu, Dia menunjukkan kuasanya, mengarahkan aku hingga sekarang aku disini, Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ketika itu, aku duduk di mejaku seperti biasa, tapi tiba-tiba seorang temanku menghampiri.

Dia bertanya kepadaku, “ Lis, kamu mau nglanjutin kuliah dimana? Kok tenang-tenang aja sih, anak-anak aja pada ribet.”

“Gak tau,,” kataku.

“Cerita dong lis, masa kamu gak mau bagi-bagi ma aku??”

Kemudian dengan bujukan temanku, aku akhirnya meluluh dan mulai bercerita. Saat itu aku tak ingin melanjutkan kuliah.  Alasan yang sudah tak asing lagi seperti ketika aku lulus SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Biaya sekolah yang kian menjulang membuatku tak sanggup berfikir tentang kuliah. Namun, teman-temanku terus membujukku agar aku mengikuti program beasiswa bidik misi. Dalam benakku saat itu, bidik misi akan menciptakan ketertekanan saat kuliah dengan target-target nilai yang harus dicapai. Ternyata, semua bayanganku kala itu salah, aku tidak merasa tertekan disini. Meskipun nilaiku juga tak sebaik anak-anak kota yang telah terfasilitasi lengkap, namun setidaknya aku tak tertinggal jauh dengan mereka.

Aku lolos akan seleksi alam ini. Berangkat ke Bogor, kota yang belum pernah terbayang dalam benakku sekalipun. Aku hanya orang desa yang mencoba peruntungan mengubah nasib di kota ini, layaknya burung pipit yang mencari padi diantara padang rumput. Namun, semangatku tak ubahnya elang yang mencari mangsanya. Aku ingin melihat kedua orang tuaku tersenyum bangga terhadapku dan berkata, “Itulah anakku”.

Hari pertama aku ke Bogor, menginjakkan kaki di sebuah kampus ternama, Institut Pertanian Bogor. Aku melakukan daftar ulang di gedung megah yang dikenal sebagai gedung Graha Widya Wisuda.  Berjubal antri menunggu giliran tiba, disitu awal perjumpaanku dengan teman-teman baru. Ku lihat wajah-wajah mereka penuh dengan kesombongan. Untuk berkenalan saja sungguh sulit untukku melangkah. Namun tak sepenuhnya dugaanku benar, ada juga yang sangat respect dengan orang lain.

Aku mengantri di loket bidik misi seusai melakukan daftar ulang. Menunggu giliran untuk diwawancara. Rasanya sungguh tak terkira, kakiku gemetaran tak karuan. Tibalah giliranku. Setelah masuk ruangan, aku dipersilahkan duduk oleh para dosen yang mewawancaraiku. Pertanyaan mereka hampir membuatku menangis, namun aku berhasil menahannya seperti aku berhasil lolos dari perjuangan panjang ini. Air mata sudah tak asing lagi bagiku, mungkin sumbernya juga udah mulai kering.

Hari pengumuman telah tiba, kami para peserta calon penerima beasiswa  bidik misi berbaris memanjang sesuai fakultas masing-masing. Untung saja tempatku tak terlalu dibelakang. Setelah menunggu lama, dengan gelisah dan gemetar yang tak henti-hentinya, aku melangkah, mengambil hasil pengumumannya. Aku sempat berpikir apabila aku tidak lolos kali ini aku tidak akan kuliah, namun isi  surat keputusan yang aku terima bagai air membasahi gurun sahara dalam hatiku, Alhamdulillah, aku diterima. Seketika itu air mata bahagia mengalir deras dari mataku dan seperti telah tersetel otomatis aku langsung sujud syukur atas segala nikmat yang Allah berikan padaku. Segera setelah itu aku berjalan cepat menuju kontrakan  kakak kelasku, menuju ibuku, memeluk mimpiku yang tertuang dalam kertas pengumuman ini.

“ Ibuk, aku lolos”.

Tanpa berkata apapun,  air mata ibuku mengalir, kami larut dalam keharuan yang luar biasa. Mimpi kakekku akhirnya akan segera terwujud. Aku bisa kuliah seperti teman-temanku yang lain, bahkan lebih dari itu aku bisa kuliah disini, IPB, Kampus yang mengedepankan pertanian  seperti halnya pekerjaan kedua orang tuaku. Pekerjaan yang telah membesarkan aku dan kakakku sampai sekarang ini.

 

“ Diambil dari kisah nyata pribadiku..”

Filed in General at 1:53 am

no comments

Pertanian di Kabupaten Ponorogo

August 7, 2011

Pertanian merupakan budidaya tanaman yang sudah berkembang sejak dahulu. Bahkan sejak jaman nenek moyang kita. Walaupun pertanian pada jaman tersebut dengan ladang berpindah – pindah, karena mereka hidup secara nomaden. Tanaman hasil dari pertanian tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.

Pertanian adalah suatu hal yang sudah tidak asing lagi di daerah kami. Lahan – lahan pertanian masih terbentang luas di daerah kami. Penghasilan sebagian besar masyarakat di daerah kami adalah dari hasil pertanian. Masih banyak masyarakat yang bekerja sebagai petani disana, apalagi di daerah pedesaan. Tetapi untuk daerah perkotaan di Ponorogo, lahan pertanian sudah hampir tidak ada. Semua padat akan bangunan – bangunan pertokoan serta taman – taman kota yang dibangun pemerintah demi keindahan lingkungan. Ditambah lagi, masyarakat kota cenderung memilih bekerja sebagai karyawan – karyawan perusahaan dibandingkan dengan bercocok tanam. Kalaupun bercocok tanam, mereka hanya menanam tanaman hias di sekitar rumah sebagai penghias rumah mereka.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan masyarakat Ponorogo yang berada di daerah pinggiran kota. Setiap hari mereka pergi ke sawah, membanting tulang untuk bercocok tanam di sana. Seperti halnya di desa saya, yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai seorang petani. Desa saya bernama desa Poko yang terletak di Kecamatan Jambon, sebelah barat dari Kota Ponorogo. Lahan pertanian di desa saya masih terbentang luas. Kemanapun mata memandang, masih terbentang lahan persawahan yang luas dimana – mana. Jikalau musim tanam tiba, hamparan padi yang hijau terlihat sejuk di pandang mata. Demikian pula saat musim panen tiba, padi – padi yang menguning menambah indah panorama di desa kami, apalagi pada sore hari saat matahari  hampir tenggelam di ufuk barat. Seperti halnya sunset di pinggir pantai, demikian juga hal tersebut.

Di daerah kami, umumnya pertanian hanya berpusat pada kebutuhan pangan, seperti beras dan palawija. Produk unggulan yang biasa di tanam di daerah kami adalah padi, contohnya jenis padi IR, Serang, dan sebagainya. Untuk palawija, kami biasa menanam jagung, kacang merah, kacang hijau, dan kedelai. Kami juga menanam sayur – sayuran, contohnya terung, tomat, kangkung, bayam, dan sawi. Kami menanam padi pada musim penghujan. Pada musim kemarau, kami biasanya menanam palawija dan sayur – sayuran. Namun, akhir – akhir ini pergantian musim menjadi tidak menentu. Pada musim kemarau kadang sering terjadi hujan dengan intensitas yang cukup banyak. Hal tersebut tentu saja membuat para petani kebingungan. Mereka resah karena seringkali mengalami kegagalan panen. Belum lagi ditambah dengan harga jual hasil panen yang relatif lebih murah. Bahkan kadang hanya cukup untuk kembali modal saja. Mungkin itulah alasan usaha pertanian kian mempuruk. Usaha keras petani tidak sebanding dengan hasil yang mereka peroleh. Pemasaran dan juga keterbatasan kemampuan mengolah lahan dari para petani yang masih kurang, membuat hasil pertanian di daerah kami kurang memuaskan.

Filed in General at 12:01 pm

no comments